Senin, 07 Februari 2011

Sejarah Maluku Tenggara

MUNGKIN karena letaknya lebih jauh dan terpencil dari Kota Ambon, Maluku Tenggara kurang populer. Sejak abad ke-15, nama Maluku sudah dikenal lewat berbagai literatur lama, namun biasanya yang sering disebut adalah Ternate, Tidore, Halmahera, Seram, atau Ambon sendiri. Nama-nama daerah di Maluku Tenggara seperti Aru, Kei, atau Tanimbar seolah kalah populer. Aru umpamanya, Kepulauan ini pernah menjadi mimpi banyak petualang di mana-mana.






Dulu, penduduk Aru sering menjual burung cendrawasih tanpa kaki kepada pelaut-pelaut asing yang singgah di sana. Sebegitu mempesonanya unggas itu -biarpun cuma berupa bulu dan tubuh sampai-sampai orang di Eropa yakin bahwa burung itu memang kawin dan bertelur di 'awan', lalu menyimpulkan bahwa cendrawasih berasal dari surga! Ahli botani dan taksonomi Carolus Linnaeus (1707-1778) bahkan menamainya Paradisaea apoda, burung surga tak berkaki. Dalam buku "Ring of Fire" (1988), catatan Linnaeus juga mengilhami petualang kakak beradik Blair dari Inggris yang berlayar sembilan bulan di Indonesia pada tahun 1973. Rupanya salah satu misi utama petualangan mereka adalah membuktikan pesona cendrawasih.




Maluku Tenggara kenyataannya memang jauh dan terpencil. Keadaaan ini sudah coba diatasi sejak dulu. Bersama Maluku Tengah dan Kota Ambon, bekas wilayah Residentie de Zuid Molukken ini resmi menjadi bagian dari Maluku Selatan dengan status kabupaten pada 17 Agustus 1945. Lokasinya yang jauh, terutama dari Ambon, ternyata dirasakan sering menghambat komunikasi, baik dalam perhubungan maupun pelayanan. Melalui Sidang Dewan Maluku Selatan (1950-1951), Maluku Selatan dibagi menjadi Maluku Tengah dan Maluku Tenggara. Pada tahun 1957 Maluku Tenggara menjadi Daerah Swatantra Tingkat II dengan ibu kota Tual, dan baru di tahun 1974 resmi menjadi kabupaten dengan delapan kecamatan, Pulau-pulau Terselatan, Letti Moa Lakor, Pulau-pulau Babar, Tanimbar Selatan, Tanimbar Utara, Kei Kecil, Kei Besar, dan Pulau-pulau Aru Agar pelayanan pemerintahan dan kemasyarakatan lebih baik lagi, di tahun 1999 pemerintah menetapkan pembentukan Ka-bupaten Maluku Tenggara Barat melalui Undang-Undang (UU) Nomor 46 Tahun 1999 dan UU No 6/2000. Maluku Tenggara kini meliputi tiga kecamatan-Kei Besar, Kei Kecil, dan Pulau-pulau Aru-dengan luas keseluruhan 10.374 kilometer persegi.


Setelah pemekaran, tetap saja Maluku Tenggara terpencil. Mengapa?


Apalagi setelah terjadi kerusuhan di Maluku sekitar tahun 1998, penerbangan dari Ambon ke Tual kini terhenti. Sekarang, pergi ke Tual berarti harus ke Kota Sorong (di Irian Jaya) dulu lalu disambung dengan pelayaran dengan kapal Pelni. Ini memakan waktu sekitar 26 jam, itu pun dengan catatan, jadwal pelayaran tidak rutin dan tidak tentu. Biarpun terpencil, Maluku Tenggara ibarat kerang kusam yang sebetulnya menyimpan mutiara indah. Laut berikut flora dan fauna berpotensi sebagai 'mutiara' itu. Sektor yang paling berperan dalam kegiatan ekonomi kurun waktu 1996-1999 adalah pertanian, khususnya perikanan. Pada tahun 1996, sumbangan perikanan besarnya 16,81 persen. Tiga tahun kemudian sumbangan perikanan meningkat hingga 21,15 persen.

Tahun 1995 kabupaten ini bisa dibilang unggul dalam produksi dan nilai hasil perikanan. Untuk produksi ikan, jenis andalannya adalah cucut, lencan, kuwe, dan tenggiri. Sedangkan non-ikan, teripang lola dan siput mutiara. Sayangnya, 'mutiara' itu harus berhadapan dengan banyak masalah. Sumber daya laut di Maluku Tenggara kini dalam keadaan mengkhawatirkan, terutama oleh polusi akibat perusakan terumbu karang dan kegiatan penangkapan ikan hidup dengan bahan-bahan kimia dan bom. Selain itu, eksploitasi ikan -terutama di perairan Aru dan Kei Kecil-lebih banyak dilakukan oleh kapal-kapal asing yang bebas beroperasi dengan pola tangkap jaring. Bukan hal baru lagi kalau eksploitasi itu membuat masyarakat sekitar tidak bisa berbuat banyak. Kalaupun ada limbah berupa jenis-jenis ikan yang tidak diolah kapal-kapal asing itu, semuanya berakhir dengan dibuang ke laut. Selain perikanan, pariwisata bukan tidak mungkin dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan ekonomi Maluku Tenggara.

Keindahan alam seperti pantai, maupun fauna khas-seperti cendrawasih, nuri, dugong, penyu hijau, serta kanguru kecil, dan adat istiadat masyarakat sering disebut sebagai faktor yang semestinya bisa dikembangkan. Termasuk untuk memperbaiki tingkat kehidupan masyarakatnya. Hanya saja, banyak hal lain yang kelihatannya harus serius dibenahi pemerintah. Selain pencemaran laut dan eksploitasi kapal asing, batas wilayah Maluku Tenggara yang berdekatan dengan negara-negara lain bisa membuat pihak asing lebih cepat masuk ke Maluku Tenggara untuk berbisnis.

Akankah nasib Maluku Tenggara harus terus-menerus seperti cendrawasih tak berkaki? Tenggara. Keindahan alam seperti pantai, maupun fauna khas-seperti cendrawasih, nuri, dugong, penyu hijau, serta kanguru kecil, dan adat istiadat masyarakat sering disebut sebagai faktor yang semestinya bisa dikembangkan. Termasuk untuk memperbaiki tingkat kehidupan masyarakatnya. Hanya saja, banyak hal lain yang kelihatannya harus serius dibenahi pemerintah. Selain pencemaran laut dan eksploitasi kapal asing, batas wilayah Maluku Tenggara yang berdekatan dengan negara-negara lain bisa membuat pihak asing lebih cepat masuk ke Maluku Tenggara untuk berbisnis. Akankah nasib Maluku Tenggara harus terus-menerus seperti cendrawasih tak berkaki?

Sumber :
http://www.depdagri.go.id/pages/profil-daerah/kabupaten/id/81/name/maluku/detail/8102/maluku-tenggara

Sumber Gambar:
http://petanusantara.blogspot.com/2010/06/propinsi-maluku.html
http://andreasrumyaan.blogspot.com/2009/09/maluku-tengaara-bukit-masbait-kei-kecil.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar