Senin, 07 Februari 2011

Maluku

Maluku adalah salah satu dari 33 propinsi yang ada di Kepulauan Indonesia, terletak di sebelah Timur dengan Ibukotanya adalah Ambon. Pada tahun 1999, sebagian wilayah Provinsi Maluku dimekarkan menjadi Provinsi Maluku Utara, dengan ibukota di Sofifi. Provinsi Maluku terdiri atas gugusan kepulauan yang dikenal dengan Kepulauan Maluku.


Luas lautannya mencapai 658.294,69 km persegi dan daratannya 54.185 km persegi. Di bagian Utara berbatasan dengan Propinsi Maluku Utara, di Selatan dengan Timor Leste dan Australia, di bagian Barat dengan Sulawesi Tenggara dan Tengah dan di bagian Timur dengan propinsi Papua.



Propinsi Maluku terdiri dari sembilan kabupaten dan dua kota yaitu Pulau Buru dengan ibukota Namlea, Pulau Buru Selatan dengan ibukota Namrole, Kepulauan Aru dengan ibukota Oobo, Maluku Barat Daya dengan ibukota Tiakur, Maluku Tengah dengan ibukota Masohi, Maluku Tenggara dengan ibukota Tual, Maluku Tenggara Barat dengan ibukotanya Saumlaki, Seram Bagian Barat dengan ibukota Dataran Hunipopu, Seram Bagian Timur dengan ibukota Dataran Hunimoa dan kota Ambon serta kota Tual.

Lihat Peta Lebih Besar
Pada masa lalu wilayah Maluku dikenal sebagai penghasil rempah-rempah seperti cengkeh dan pala sehingga menarik kedatangan pedagang dari Eropa. Saat ini masyarakat Maluku tetap menanam cengkeh dan pala namun dengan produksi yang tidak sebanyak masa lalu.

Wilayah ini juga menghasilkan kakao, kopi dan buah-buahan seperti nanas yang sebagian besar diekspor. Laut Maluku merupakan sumber ikan yang sangat besar khususnya di wilayah perairan Pulau Seram dan kepuluan di wilayah selatan Maluku. Produksi ikan di wilayah ini sebagian besar juga diekspor sedangkan kawasan hutan di Pulau Seram juga dikenal sebagai kawasan penghasil kayu besi (ironwood).

Profil Kota Ambon

Kota Ambon merupakan ibukota propinsi kepulauan Maluku. Dengan sejarah sebagai wilayah perdagangan
rempah terkenal, membentuk pengembangan kota sebagai penghubung dan pusat perdagangan, pendidikan, budaya dan pengembangan.

Kota Ambon berdiri pada tahun 1500-1600 setelah Benteng Nossa Seinhora da Annunciada dididrikan oleh bangsa Portugis. Belanda kemudian mengambil alih pada tahun 1602 dan mengubah menjadi Benteng Kasteel Victoria dengan melakukan pembangunan kembali dan perluasan, hingga seperti sekarang. Masyarakat Kepulauan Maluku merasa aman untuk tinggal dan bekerja di sekitar benteng hingga sekarang kota Ambon, atau "Ambon Manise" yang berarti " Ambon yang Cantik".

Luas Wilayah Daratan (km2) sebesar 359,45 Km², sedangkan Luas Wilayah Laut (km2) seluas 17,55 Km², dan jumlah penduduk (jiwa) 206.210 jiwa (Sensus Penduduk 2000).

UGM dan Pemerintah Kota Tual Jalin Kerjasama

Bertempat di ruang Multimedia UGM, Rabu (10/12) dilaksanakan penandatanganan naskah kerjasama antara Universitas Gadjah Mada dengan Pemerintah Tual Provinsi Maluku Tenggara. Kerjasama untuk pengembangan dan peningkatan sumber daya manusia guna kepentingan pembangunan Kota Tual Provinsi Maluku Utara ditandatangani Rektor UGM Prof Ir Sudjarwadi MEng PhD dan Walikota Tual Drs HMM Tamher disaksikan sejumlah pejabat UGM dan tamu undangan.



"Dari pengalaman bertahun-tahun membangun, ternyata membangun sebuah kota di kepulauan terutama yang terpencil di kawasan paling timur Indonesia memerlukan sentuhan-sentuhan dari para pemikir-pemikir dan perencana-perencana pembangunan," ujar Walikota Tual dalam sambutannya.

Pola Pengembangan Kapet Seram


Dalam Pengembangan Wilayah Kapet Seram digunakan ‘Pendekatan Cluster’, yaitu pengelompokan berdasarkan pertimbangan sosial budaya, potensi wilayah, letak geografis, luas wilayah maupun administrasi wilayah.

Dengan demikian pengembangan Kapet Seram dibagi dalam 5 (lima) Cluster sebagai berikut :

HUT Ke 7, Seram bagian Timur Mendobrak Isolasi

Sekitar tujuh tahun yang lalu Seram Bagian Timur (SBT) hanya punya empat kilometer jalan. Kini, sudah membangun 532 km jalan dan 60 buah jembatan. Banyak akses dibuka.

Sieperti apa rasanya di-isolasi? Sekali waktu i cobalah masuk dalam sebuah kamar yang benar-benar gelap. Cukup sepuluh menit saja. Tak bisa melihat hari, tak bisa melihat jam, apalagi pemandangan luar kamar. Semuanya hitam, gelap dan tentunya terbatas. Barang-kali katak di dalam tempurung yang sempit dan gelap itu juga berpandangan dunia hanya sebatas tempurung. Itulah isolasi. "Bayangkan saja, sejak resmidimekarkan, Kabupaten Seram Bagian Timur tak punya apa-apa. Hanya ada jalan sepanjang empat kilometer," kata Abdullah Vanath Bupati SBT. Panjang empat kilometer tentunya tak lebih dari sepersen saja dari total kebutuhan jalan yang ada.

Kabupaten Seram Bagian Barat


Kabupaten Seram Bagian Barat adalah salah satu kabupaten yang berada di Propinsi Maluku. Kabupaten ini memiliki luas 5.176 km2 dengan jumlah penduduk 157.318 jiwa. Jumlah itu tersebar di empat kecamatan, yaitu; Kecamatan Kairatu, Seram Barat, Huamual Belakang, dan Taniwel. Dari jumlah tersebut, 77.177 adalah pria dan 80.141 jiwa adalah wanita. Pendidikan penduduk tersebut mayoritas rendah. Sekitar 75 persen tidak tamat SLTA. Komposisi pendidikan yang rendah ini, mengarahkan aktivitas ekonomi pada sektor pertanian.

Pertanian merupakan sektor paling banyak digeluti penduduk setempat. Kontribusi sektor ini pada pembentukan PDRB mencapai 34.56 persen berdasar harga konstan (2000), atau senilai Rp 88,8 milyar. Padi banyak terdapat di Kecamatan Kairatu dan Taniwel. Untuk produk palawija seperti jagung dan ubi kayu, kedelai dan kacang tanah banyak terdapat di Kairatu. Sedangkan ubi jalar banyak terdapat di Kairatu dan Taniwel. Untuk sayur mayur banyak terdapat di Kairatu.

Menyusuri Pantai Piru, Kab Seram Bag Barat

Menuju kawasan pantai piru dari kota piru terlebih dahulu melewati pemukiman masyarakat, tanahnya berlumpur dan didapati kebun masyarakat, sesekali terlihat pohon sagu. Di bawah pohon-pohon kelapa terdapat beberapa ekor sapi dengan “hati riang gembira” sedang menikmati sarapan paginya yaitu rumput hijau yang segar..

Setelah melewati kebun penduduk, dapat dilihat kumpulan pohon sagu yang merupakan daerah hutan rawa ditemani beberapa jenis pohon yang biasa tumbuh di habitat rawa seperti giawas hutan, palaka dll. Kurang dari 50 meter lagi akan memasuki daerah pantai.

Perjalanan ini didampingi oleh dua orang sahabat yang setia mengikuti gerak langkah kaki untuk melihat-lihat pantai Piru. "Theo" itulah namanya, seorang teman yang merupakan kediaman asli di Piru dan seorang lagi bernama "Lutfi" teman perjalanan dari Ambon.